Saturday, 9 January 2016

Serunya Trekking ke Air Terjun Leuwi Tomo! Padarincang, Serang-Banten.

     Jumlah air terjun atau atau masyarakat setempat menyebutnya CURUG, sangat banyak di padarincang. Ada curug cikotak, curug leuwi bumi, cigumawang, leuwi tomo dan masih banyak lagi. Kali ini gue bakalan mengkisahkan ceelah mengkisahkan, tentang serunya perjalanan menuju curug leuwi tomo yang berada di sebuah kecamatan di kabupaten serang yang bernama padarincang! Padarincang merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah barat daya kabupaten serang, yang letaknya berada di jalur menuju wisata pantai anyer diantara kecamatan ciomas dan kecamatan cinangka, kalo gak tau, nih liat peta :p.

picture's source: google.com

       Dan untuk letak curug leuwi tomo, agak lumayan jauh dari jalan raya. Dari pasar padarincang gue masuk ke sebuah gang sempit yang merupakan jalan menuju ke perkampungan warga dan juga salah satu akses menuju beberapa curug di padarincang, salah satunya curug leuwi tomo. Well, kali ini perjalanan seru gue ditemani oleh teman sepermainan ciehh. Yap mereka yang biasa menemani perjalanan gue, ada ilham, dwiki, jimboy, dan anto. Perjalanan kali ini memang cukup dadakan, karena kita bertemu di kampus dan langsung merencanakan perjalanan ke curug leuwi tomo, tentunya dengan pakaian rapih pakai sepatu pantofel, dan dengan gue yang menggendong skripsi. Mau tau kisahnya? Let’s check it out broh!
       Gue berangkat dari kampus tercinta yang berada di kota serang menggunakan sepeda motor, kira-kira memakan waktu 1 jam untuk sampai di kecamatan padarincang. Setibanya di padarincang, perasaan was-was mulai muncul. Yap, cuaca sedikit kurang bersahabat, padarincang baru saja diguyur hujan. Itu berarti jalanan menuju curug akan sangat licin berlumpur, dan aliran sungai pun akan deras. Selamat tinggal skripsi, sepatu pantofel dan pakaian rapih :(. Let’s rock the track!!! Hahaha. Setelah memasuki perkampungan warga, banyak dari mereka yang menyediakan tempat parkir dengan mahar sebesar 5000 rupiah/ sepeda motor, jadi gak perlu cemas soal kendaraan pasti mereka jaga, bahkan ditunggu sampe anda datang :p. Gue memutuskan untuk menyimpan kendaraan diparkiran paling depan, karena jalan untuk memasuki parkiran dalam cukup curam dan licin. Dan demi keselamatan, ya gapapa lah sedikit jalan kaki. Eits tapi jalan kaki cukup berbahaya…. Kalau pake sepatu pantofel. Please jangan pake sepatu pantofel. Haha. Terbukti ilham dan anto kesulitan untuk memilih jalan agar tidak terpeleset. Di perkampungan paling dekat dengan lokasi curug, gue membayar tiket masuk sebesar 10.000 rupiah, menurut gue lumayan cukup besar dengan infrastruktur yang kurang memadai, tapi gapapa lah itung-itung membantu perekonomian masyarakat sekitar dan pariwisata lokal.

 
Mau interview kerja di curug leuwi tomo :p
       Jalan menuju curug leuwi tomo bisa memakan waktu antara 30-90 menit dari jalan raya. Tergantung kecepatan, kemauan dan kelancaran medan. Untuk perjalanan gue, memakan waktu 60 menit karena diakibatkan jalanan yang licin, sungai yang cukup deras jadi sedikit nyebur-nyebur, dan tentunya sepatu pantofel sialan haha. Rombongan gue pada hari itu adalah rombongan terakhir yang mengunjungi curug leuwi tomo, dan tiba di curug pada pukul 17.30. memang cukup sore, dan dipastikan ketika pulang akan melewati hutan dan sungai dalam keadaan gelap. For your information, belum dibangun jembatan untuk menyebrangi aliran sungai yang harus kita lewati ketika pergi ke curug leuwi tomo. Jadi kalau air sungai deras harus siap basah-basahan.

 
Belum ada jembatan broh :p
 
Melewati persawahan yang epic :3
       Dan sialnya lagi hujan mulai turun ketika gue pulang, yang gue inget cuma skripsi gue bakalan jadi bubur, haha. Jalanan tambah licin, sungai tambah deras, dan langit mulai gelap. Ditambah lagi gak ada yang bawa senter atau alat penerangan lain. Eits, tapi kalau masalah gelap-gelapan kami sudah sering melakukannya ehhh, iya kita cukup sering trekking ke gunung pada malam hari jadi gk terlalu was-was. Yang ditakutkan cuma jalanan yang tambah licin yang gak terlihat.  Dan benar saja, ketika ditengah hutan gue meluncur sekitar 10 meter gara-gara terpeleset dijalanan menurun. Coba kalau direncanakan, kan bisa pasang action camera dulu biar berasa meluncur di wahana air haha. But, itu merupakan terpeleset yang menyenangkan dalam hidup gue, kapan-kapan bisa direncanakan :p. Dan saat ingin menyebrangi sungai dengan air yang cukup deras gue mulai was-was, antara harus menyelamatkan hidup atau skripsi gue. Mulai lah gue melompat-lompat diantara bebatuan sungai, dan ketika melompati batu yang cukup jauh gue kehilangan keseimbangan karena beban didalam tas gue yang berat. Jeburrrrrr, gue dan skripsi tercinta berenang-renang dihadapan jimboy dan dwiki, Sial, mereka malah ketawa. Dengan jurus bangau terbang gue coba berdiri dan berjalan ke pinggir sungai, dan ternyata skripsi dan barang-barang gue masih kering. Untung pake tas buatan mang ening hahaha. (maap bukan di endorse).

 
Melewati curug Leuwi Bumi (katanya) :p
 
Curug Leuwi Tomo, yuk nyeburrr :D

       Langit mulai gelap, mendung, gak ada cahaya bulan, jalanan mulai gak terlihat, dan Cuma kunang-kunang yang menerangi jalan gue. Sesekali bertemu warga sekitar yang mencari ikan pada malam hari dan bertanya “kapeutingan nya” atau dalam bahasa Indonesia “kemalaman ya”. Dan tibalah gue ditempat parkiran kira-kira pada pukul 19.30, seperti yang gue ceritakan tadi, tukang parkir disana sangat setia, bak romi yang menunggu juleha haha. Mereka dengan setia menunggu kedatangan gue dan kawan-kawan :p.

       Yuk visit banten broh, yang orang banten mari promosikan wisata-wisata di banten, dan tentunya tetap menjaga kearifan lokal dan alam banten. :)

Saturday, 28 November 2015

Kota Batu, Jawa Timur: Wisata Tak Pernah Berakhir!

Well, slogan ini memang pantas disematkan untuk kota batu, Jawa Timur. Melanjutkan tulisan tentang perjalanan gue dikota malang dan bromo, kota batu merupakan serangkaian dari perjalanan gue di jawa timur. Kota batu merupakan sebuah kota dijawa timur yang dikelilingi oleh banyak gunung yaitu Mt. Anjasmoro (2.277 mdpl), Mt. Arjuno (3.339 mdpl), Mt. Banyak (1.306 mdpl), Mt. Kawi (2.551 mdpl), Mt. Panderman (2.045 mdpl), Mt. Semeru (3.676 mdpl) , Mt. Welirang (3.156 mdpl), dan Gunung Wukir (335 mdpl).

Salah satu kota yang epic abis, dan kota yang sejuk karena memiliki ketinggian 680-1200 mdpl. Selain orangnya yang ramah, makanan dan jajanan khas kota batu (menurut gue) tidak menguras isi kantong, dibandingkan dengan kota lain yang hampir tiap sudutnya merupakan TEMPAT WISATA.

Ya, wisata dikota batu tak pernah berakhir. Disiang hari banyak tempat yang bisa kita kunjungi seperti Batu Secret Zoo (Jatim Park 2), Jatim Park 1, museum angkut, Eco Green Park, Coban Rondo, Paralayang di gunung banyak dan masih banyak lagi. Ketika matahari mulai terbenam siapa sangka kota batu akan berubah sepi, justru wisata malam dimulai :D. Ada pusat-pusat keramaian pada malam hari di kota batu seperti Batu Night Spectacular (BNS), atau sekedar berkumpul dikawasan alun-alun batu sembari berwisata kuliner. Dan seperti biasa saat kita traveling, wajib hukumnya mencoba makanan khas kota yang kita kunjungi. Terus apa aja yg khas di kota batu, malang dan sekitarnya?, menurut info mamang-mamang penjaga penginapan :p, katanya di kota batu wajib hukumnya mencoba aneka olahan ketan, dan salah satunya ada di pos ketan legenda di alun-alun batu.

Ini sedikit dokumentasi ketika backpackeran di kota batu



Coban Rondo

 Labirin (Coban Rondo)

Alun-alun Kota Batu

Sebenarnya masih banyak dokumentasi di kota batu, sayangnya harddisk gue rusak dan membawa semua isinya termasuk dokumentasi perjalanan :’(. Kalo mau tau asiknya wisata disana, makannya main-main ke kota batu :p

Friday, 27 November 2015

Menelusuri Keindahan Banten: Tanjung Lesung & Ujung Kulon



Ketika mendengar kata Banten mungkin banyak orang yang hanya mengenal provinsi ini dengan debusnya, para jawaranya atau mungkin ilmu yang berbau mistis. Terus apakah ada potensi wisata di banten? Well men, banten punya segalanya! Jika ingin menikmati pantai, banten dikelilingi pantai-pantai yang eksotis, sawarna, anyer, tanjung lesung dan masih banyak lagi. Ingin naik gunung? Provinsi yang dikenal dengan tanah jawara ini punya beberapa gunung yang wajib anda taklukan, seperti gunung Pulosari yang terletak di pandeglang. Ingin berwisata bahari? Pulau tunda Juaranya! Sebenarnya masih banyak spot untuk menikmati wisata bahari di banten, seperti pulau sangiang dan tentunya gugusan pulau di ujung kulon seperti pualu peucang, pulau oar dll.
Well kali ini kita bakalan pergi ke bagian barat daya Banten, yup Ujung kulon dan sekitarnya. Perjalanan ke ujung kulon dapat ditempuh kurang lebih 6 jam dari kota serang dengan menggunakan sepeda motor. Eits tapi Sebelum menuju ujung kulon tidak lengkap jika kita tidak mengunjungi pantai tanjung lesung yang sekarang cukup terkenal dan epic abis men. Jika hanya mengunjungi tanjung lesung, dari kota serang dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam. Dan ini salah satu spot epic di tanjung lesung, keren kan men!



Setelah bermain-main di tanjung lesung kita bisa melanjutkan perjalanan ke ujung kulon dengan menempuh 2 sampai 3 jam perjalanan. For your information! Jalanan ke ujung kulon lumayan bagus dengan aspal yang rata sampai ke kecamatan Sumur akan tetapi harus berhati-hati karena jalanan cukup curam dan berkelok. Dan setelah sampai di kecamatan sumur jalanan mulai berlubang :(. Tapi sakitnya badan saat dijalanan berlubang akan terobati dengan pemandangan hutan taman nasional ujung kulon dan pantai yang sangat eksotis :D, dan ini sedikit dokumentasi di ujung kulon yang eksotis.


Note: Jika ingin melihat indahnya ujung kulon, kalian bisa menyebrang ke pulau peucang, oar dll, karena pulau-pulau ini sangat direkomendasikan buat kalian traveler super alami sejati :p

Thursday, 27 August 2015

Mt. Prau & Dataran tinggi Dieng, Wonosobo.


Ada yang suka nanjak-nanjak atau naik naik ke puncak gunung?. Atau ada yang lagi males ngerjain skripsi, terus malah nanjak gunung? Ada! Iya, gue :v. Well, kali ini gue bakalan berbagi cerita tentang perjalanan gue ke wonosobo dan sekitarnya :D. Yap, gunung Prau 2565mdpl, dan tentunya gak lupa juga buat berwisata di kawasan dieng. Mau tau ceritanya? Let’s check it out :3
Pada perjalanan kali ini gue ditemani oleh sahabat-sahabat yang paling josh dan bersama kawan-kawan dari EPA (equator pencinta alam). Perjalananan yang sangat menyenangkan, dan insyallah barokah :). 
Kami berangkat menggunakan bus carteran dari alun-alun tangerang pada pukul 22.00 WIB, dan TADINYA sudah merencanakan pendakian pada “siang” keesokan harinya. Karena pada waktu normal, perjalanan jakarta-wonosobo hanya memakan waktu 12-15 jam. Akan tetapi karena ada si komo lewat sepanjang perjalanan tangerang-wonosobo, akhirnya perjalanan memakan waktu lebih dari 19 jam. Atau tiba di wonosobo pada pukul 18.00 wib.
Setibanya di alun-alun wonosobo kami bersiap-siap merapikan barang bawaan masing-masing, dan tak lupa juga untuk shalat, WAJIB 5 WAKTU COK :v. Setelah semua siap, kami pun pindah kendaraan menggunakan bus yang lebih kecil ke basecamp pendakian patak banteng. Yap, aktifitas pertama dan utama kami adalah mendaki gunung prau. Gunung prau yang menurut gue cuma kumpulan bukit-bukit, emang iya sih :v memiliki ketinggian dua ribu lima ratus enam puluh lima meter diatas permukaan laut (2565 mdpl). Ada apa aja digunung prau? Baca sampe selesai yah gaes :p
Lanjooot :3. Setelah tiba di basecamp, kami pun memutuskan untuk mendaki malam hari pada pukul 23.30 WIB. Trek gunung prau memang cocok untuk pemula, karena jarak yang tidak begitu jauh dari pos awal pendakian sampai ke puncak. Hal yang harus diperhatikan ketika mendaki tentunya kita butuh persiapan yang matang, tak terkecuali ketika mendaki gunung prau. Mengingat trek prau yang berdebu dan cukup curam, maka dibutuhkan kesiapan fisik dan mental bagi para pendaki. Terutama bagi pendaki pemula dan pendaki serampangan a.k.a cuek dengan keselamatan, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti cedera, sakit ketika pendakian dll.
Lama pendakian gunung prau cukup relatif, sesuai kecepatan, kemampuan, dan kemauan :v. Kalau gue kemarin sekitar 3 jam. Tiba dipuncak prau sekitar pukul 02.30 lebih dikit lah, dengan 6 anggota tim yang pada mabok debu trek :v. Untuk yang belum pernah mendaki gunung prau disarankan untuk memakai penutup hidung, masker, slayer, buff dan sebagainya. Apalagi yang mendaki malam hari, karena debu relatif tidak terlihat akan tetapi terasa cukup mengganggu pernapasan. Note: debu di trek sangat mengganggu apalagi pada musim kemarau, kalau pas musim hujan gue gatau, mungkin debunya jadi lumpur :p.
Ini sedikit dokumentasi perjalanan prau 15-17 agustus 2015:


 Golden sunrise Mt. Prau 16-08-2015 




  Mt. Prau 16-08-2015

View dataran tinggi dieng dari trek Mt. Prau

Gue (kanan), with mas sugeng. Keluarga baru yang bobo satu tenda :v

Rencananya kami akan melanjutkan camp sampai tanggal 17 agustus. Akan tetapi karena berbagai hal, akhirnya kami memutuskan untuk turun pada siang hari tanggal 16 agustus. Waktu turun memakan waktu 1-2 jam, sekali lagi tergantung kecepatan, kemampuan dan kemauan :v. Jadwal camp satu malam di gunung prau kami ganti dengan membuka camp dipenginapan/ basecamp di patak banteng :v sembari menikmati suasana perkampungan di sekitaran basecamp, dan mencoba kuliner-kuliner khas wonosobo. Dan ini kuliner yang epic abis, yang gue coba :D:

 Mie Ongklok
Selain manisan carica, mie ongklok merupakan makanan khas wonosobo dan dataran tinggi dieng yang malam itu gue coba. Dengan bumbu rempah-rempah yang menghangatkan badan, makanan ini memang cocok untuk disantap terutama pada malam hari, maknyus :v. eits, satu lagi.. GORENGAN! Ada satu gorengan, gorengan ini unik sekali, gorengan naik kuda tapi kuda boong. Ehh engga engga, gorangan ini enak abis cok. Ini penampakannya:

Ini namanya gorengan :v

Ada tempe, tahu, dll yang adonannya dicampur daun, atau rumput, atau apalah gue gatau namanya yang ijo-ijo ini :v yang khas wonosobo, yang pasti josh abis. Jangan lupa untuk menyantapnya selagi hangat, maklum dieng dan sekitarnya kan dingin. Biar lebih nikmat :3
Keesokan harinya kami melanjutkan wisata ke kawasan dieng. Ini potonya, because no pic = hoax :v


Kompleks candi arjuna

Sikidang crater

 Telaga warna

Karena matahari sudah cukup terik, dan teringat skripsi yang belum disentuh akhirnya gue dan tim kembali ke basecamp untuk mengepak barang dan kembali ke wonosobo, setelah itu dilanjutkan perjalanan pulang ke tangerang yang alhamdulillah lancar, gk ada si komo lewat. Karena mungkin si komo belum turun dari gunung prau :3